Kemarau Tekan Hasil Panen, Produktivitas Cabai Rawit Turun Hampir 50 Persen
Musim kemarau yang disertai cuaca panas berdampak pada produktivitas tanaman cabai rawit di Kabupaten Magetan. Petani mengaku hasil panen pada musim ini merosot hingga hampir 50 persen dibandingkan musim sebelumnya. Di saat yang sama, harga jual cabai juga turun sehingga pendapatan petani semakin tertekan.
Hamparan tanaman cabai rawit di Desa Bogoarum, Kecamatan Plaosan, masih tampak hijau di tengah musim kemarau. Namun, kondisi tersebut tidak berbanding lurus dengan hasil panen yang diterima petani.
Petani menyebut produktivitas panen menurun hampir 50 persen. Jika pada musim tanam sebelumnya sekitar 3.000 batang cabai mampu menghasilkan 60 hingga 70 kilogram dalam sekali panen, kini hasilnya hanya berkisar 30 hingga 35 kilogram.
Penurunan produksi tersebut diperparah dengan merosotnya harga jual cabai di tingkat petani. Pada awal masa panen, harga cabai rawit sempat mencapai Rp70 ribu per kilogram. Namun saat ini, harga turun menjadi sekitar Rp30 ribu per kilogram dan masih diperkirakan berpotensi menurun.
Menurut petani, perawatan tanaman tidak mengalami perubahan dibandingkan musim sebelumnya. Pemupukan dan pengairan tetap dilakukan secara rutin. Namun, suhu udara yang lebih panas selama musim kemarau diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi penurunan produktivitas tanaman.
“Perawatannya sama seperti biasanya, tetapi hasil panen jauh berkurang. Ditambah harga cabai sekarang turun, sehingga pendapatan kami ikut menurun,” ujar Suratmi, petani cabai.
Hingga kini, penyebab pasti menurunnya produktivitas cabai maupun anjloknya harga di tingkat petani masih belum diketahui secara pasti. Para petani berharap kondisi cuaca segera membaik dan harga cabai kembali stabil agar usaha budi daya cabai tetap memberikan keuntungan.






