11 Dusun Terdampak Kekeringan, Warga Andalkan Dropping untuk Pemenuhan Air Bersih
NGAWI — Dampak musim kemarau membuat ratusan kepala keluarga di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Warga di sejumlah wilayah terdampak kini mengandalkan bantuan distribusi atau dropping air dari Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui BPBD dan instansi terkait.
Krisis air bersih menjadi persoalan yang kembali terjadi setiap musim kemarau. Sejumlah sumber air milik warga mulai mengering sehingga mereka terpaksa mencari air hingga ke desa lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ratusan warga di Dusun Jati Suwak, Desa Suruh, serta Dusun Gagan, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, menjadi salah satu wilayah yang terdampak kekeringan. Kondisi tersebut membuat bantuan distribusi air bersih dari pemerintah sangat dibutuhkan.
Salah seorang warga Dusun Gagan, Sucipto, mengatakan dampak kekeringan mulai terasa sejak Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada September. Sumber air warga mulai mengering sehingga sebagian warga harus mencari air hingga ke wilayah desa tetangga.
Menurutnya, bantuan air bersih dari pemerintah hanya mampu mencukupi kebutuhan warga selama sekitar tiga hari.
Sementara itu, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko mengatakan pemetaan wilayah terdampak kekeringan saat ini dilakukan hingga tingkat dusun. Berdasarkan data terakhir, terdapat 11 dusun yang terdampak dengan total 631 kepala keluarga atau 1.627 jiwa.
Salah satu wilayah yang masih menjadi perhatian adalah Dusun Gagan. Hingga kini belum dilakukan intervensi pembangunan sumber air karena kondisi wilayah cukup sulit untuk menentukan titik sumber air yang potensial.
Pemkab Ngawi melalui Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) akan terus mencari potensi sumber air melalui kajian geolistrik. Hasil kajian tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi dasar pembangunan fasilitas penyediaan air bersih, seperti Pamsimas atau SPAM.
Untuk memenuhi kebutuhan warga dalam jangka pendek, Pemkab Ngawi masih melakukan dropping air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. Sementara dalam jangka panjang, intervensi melalui pembangunan instalasi air bersih akan terus dilakukan agar masyarakat tidak selalu bergantung pada bantuan distribusi saat musim kemarau.






