Kranji Bambu, Kerajinan Turun-Temurun yang Bertahan di Tengah Zaman
MAGETAN – Kerajinan kranji bambu masih bertahan sebagai keterampilan turun-temurun di Kelurahan Panekan, Kabupaten Magetan. Berbahan dasar bambu ori, kerajinan yang digunakan sebagai kurungan ayam ini terus diproduksi warga dan dipasarkan hingga sejumlah daerah di sekitarnya.
Salah satu pengrajin, Hariyadi, mengaku mempelajari pembuatan kranji bambu sejak kecil dari orang tuanya. Hingga kini, proses produksinya masih mengandalkan keterampilan tangan dan ketelatenan, terutama saat membersihkan bambu agar mudah dibentuk.
Dalam sehari, Hariyadi mampu membuat hingga dua kranji untuk setiap variasi ukuran. Satu batang bambu ori dapat menghasilkan dua buah kranji, bergantung pada proses pengolahan bahan yang dilakukan.
Hasil kerajinan tersebut dipasarkan ke sejumlah pasar di wilayah Magetan hingga Madiun. Harga kranji bambu bervariasi, mulai Rp25 ribu untuk ukuran terkecil hingga Rp50 ribu untuk ukuran terbesar.
Meski masih memiliki pasar, penjualan kranji bambu tidak selalu ramai. Permintaan cenderung meningkat menjelang bulan Suro, ketika kebutuhan terhadap kerajinan tersebut mengalami kenaikan.
Di tengah perubahan zaman, Hariyadi tetap mempertahankan keterampilan yang diwariskan keluarganya. Kerajinan kranji bambu tidak hanya menjadi produk bernilai ekonomi, tetapi juga bagian dari tradisi lokal yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan waktu.






